Cerita Sebelumnya:
- Cakrawala Senja Buat Tata (1)
- Cakrawala Senja Buat Tata (2)
- Cakrawala Senja Buat Tata (3)
- Cakrawala Senja Buat Tata (4)
CAKRAWALA SENJA BUAT TATA (Bagian 5)
Setelah kejadian itu, Ardi segera meminta bantuan Irish. Dan mereka pun bertemu di kafe. Irish berfikir kalu semua ini harus segera di akhiri. Irish harus segera memberi tahu Ardi yang sebenarnya. Irish ingin melihat di akhir hidupnya Tata bisa menikmati apa yang selama ini dia inginkan. Cerita Irish membuat Ardi tak berdaya. Dia tak mengira kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Sekarang ia benar-benar bertekat untuk memiliki Tata walaupun untuk sesaat.
Sore itu Ardi sampai di depan rumah Tata. Dengan langkah mantap ia memasuki halaman rumah Tata. Tampak ayahnya membukakan pintu dengan gontai. Wajahnya pucat.
“Ardi ya? Silahkan masuk Nak. Ada apa kamu datang ke sini?”
“Ardi mau bertemuTtata Om. Boleh, Ardi bertemu Tata?”
Ibu Tata yang mendengar hal itu tak kuasa menahan tangis. Ardi yang mendengar suara tangisan dari dapur itu tampak semakain bingung.
“Tata dimana Om? Ardi boleh bertemu Tata kan Om?”
“Kalau kamu bisa membuat Tata bahagia di akhir hidupnya, Om memperbolehan kamu bertemu Tata”.
“Maksud Om apa? Ardi nggak mengerti Om”.
“Kamu belum tau? Tata mengidap leukimia stadium akhir. Dan kata dokter hidupnya tinggal dalam hitungan hari”. Ayah Tata tampak menahan air matanya. Ardi yang mendengar hal itu lemas seketika.
“Silahkan kamu ke kamar Tata, Irish juga ada di dalam”.
Suasana hening seketika bersama dengan kedatangan Ardi di kamar itu. Tata tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya, tetapi dia masih bisa memberikan senyuman manis untuk Ardi. Ardi masuk dan menghampiri tubuh Tata. Ia memeluk tubuh Tata. Tata terdiam, menangis, tak berdaya.
“Tata, masihkah kau tetap tidak mau menerima aku?”
“Buat apa? Kamu akan menyesal. Bentar lagi aku bakalan ninggalin semuanya. Aku nggak mau buat kamu sedih” Tata menangis pelan.
“Tapi aku ingin mewujudkan keinginanmu untuk melihat senja di balik bukit Tata. Aku selalu mengingat cerita kamu tentang keindahan senja di bukit itu Tata. Kamu masih sayang aku kan? Boleh aku mengajak kamu kesana?”
“Kalau kamu dapat izin dari Ayah dan Ibu, aku akan ikut kamu”, nada mengejek keluar dari bibir pucat Tata, dan simpul manis senyumnya. Membuat Ardi bangun dan segera menghampiri Ayah dan Ibu Tata.
“Sudahlah Ta, terima saja ajakan Ardi. Aku juga ingin melihat kamu bahagia jalan sama Ardi”. Desak Irish pada Tata.
“Aku juga berharap seperti itu. Aku ingin sekali pergi bersama Ardi melihat senja dan kepakan burung-burung camar diatasnya. Tapi, apa mungkin Ayah menyetujunya?”.
Di ruamg tamu tampak Ardi sedang bersimpuh di kaki Ayah Tata untuk meminta izin. Ardi bersaha cukup keras, dan akhirnya Ayah Tata mengizinkannya pergi.
Sesampai di bukit itu, Ardi dan Tata mencari tempat duduk. Mereka berdua menikmati sapuan angin gunung yang sejuk. Sore itu nampak cerah sekali. Burung-burung menyambut kedatangan dua sejoli itu. Mereka mengucapkan salam atas kedatangannya dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Tata duduk disamping Ardi dengan rangkulan hangat tanggan Ardi di pundaknya. Tak kuasa Tata menahan tangis. Tangisnya pun pecah di bahu Ardi. Ardi terdiam. Untuk sesaat di antara mereka yang terdengar hanya kepakan sayap burung dan kicau merdunya.
Tangis Tata terhenti saat senja perlahan turun, kembali keperaduaannya. Mereka berdua menikmati keindahan itu. Tata meletakkan tangannya di pinggang Ardi. Saat senja mulai menghilang, tampak sekelompok burung camar membumbung tinggi menyambut malam. Mengucapkan salam perpisahan pada Tata. Tepat saat camar menghilang, hilang pula segala kenangan yang dimiliki Tata. Tubuhnya tergeletak lemas dalam dekapan Ardi. Ayah, Ibu dan Irish yang menjemput mereka segera berlari saat melihat tubuh Tata lemas. Ayah dan Ibu Tata tak kuasa menahan tangis. Tangisan mereka mengiringi kepergian Tata. Tampak Tata memberikan salam perpisahan pada Aardi bersama dengan kicauan burung camar. Ardi melambaikan tangannya membalas salam Tata. Dan hanya Ardi yang tau. Dalam benak Ardi berharap kelak akan bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik.
By: Sulis Eka Ariyaning Putri
Label: Cakrawala Senja Buat Tata, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
CAKRAWALA SENJA BUAT TATA (Bagian 4)
Seminggu berlalu, Tata ingat kalau hari ini dia ada janji dengan dokter yang tempo dulu memeriksanya. Selama seminggu pula Tata tidak mengetahui keberadaan Ardi. Meskipun Tata sangat ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Ardi selama tidak bertemu Tata, Tata tepap berdiam diri. Dia tidak ingin Ardi mengetaui perasaannya yang sebenarnya. Lamunannya buyar ketika seorang dokter menegurnya.
“Oh mbak, silahkan masuk. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan hasil tesnya di laboratorium”
“Ya Dok, silahkan”. Tata bicara tanpa semangat.
Saat itu Tata merasakan kalau tempat itu benar-benar hening. Dia merasa kalau dia berada di alam lain yang begitu dingin. Dan sesaat setelah itu ia sadar kalau dirinya telah berada di tempat tidur. Tata pingsan dan tergeletak di lantai saat dokter masuk.
“Anda tidak boleh berfikir terlalu keras Mbak”.
“Bagaimana hasil tesnya Dok?
“Berdasarkan hasil tesnya, Mbak mengidap leukimia satadium akhir”.
Tata tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar baru saja. Tak terasa pipinya terasa hangat, air matanya mengalir tanpa ia sadari. Segera ia mengapus air matanya dan mohon diri pada dokter itu. Dan dokter itu menyampaian kalau ia harus segera dirawat dan menjalani terapi.
Tata menceritakan keadaannya pada Irish. Irish yang mendengar berita itu kaget. Dan Irish tau kalau Tata masih ingin mengutarakan cintanya pada Ardi yang selama ini sudah dia pendam. Dan Irish tahu kalau ia harus membantu sahabatnya yang tak akan lama pergi meninggalkannya. Tanpa di ketahui Tata, Irish menceritakan semuanya pada Ardi kecuali soal penyakitnya. Irish sudah berjanji tidak akan memberi tahu penyakitnya pada siapa pun.
Ardi yang mendengar cerita Irish terharu. Tanpa Tata dan Irish sadari, sebenarnya Ardi pun menyukai Tata sejak mereka bertemu di SMA tetapi Ardi tak mengungkapkannya karena Ardi tidak yakin Tata akan menerima cintanya. Selain itu Ardi juga tidak ingin karena cintanya di tolak mereka jadi putus hubungan sebagai seorang teman. Irish yang menyadari hal itu tampak kaget. Dan ia mengambil kesimpulan kaalu mereka berdua sama-sama suka tetapi tidak ingin menghancurkan persahabatan yang telah mereka bina.
Setelah bercerita semuanya, Irish pun menyuruh Ardi untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Tata. Dan setelah pertemuan itu, Ardi segera menelfon Tata dan mengajaknya bertemu di tempat mereka pertama bertemu. Tata menyetujuinya karena Tata sudah lama tidak bertemu Ardi karena dia sibuk mengerjakan tugas-tugasnya meskipun ia sakit.
“Kamu kok tampak pucat Ta? Kamu sakit?”.
“Ah nggak kok, mungkin karena aku terlalu serius kuliah sampai kurang tidur. Emang aku akhir-akhir ni teralalu memforsir tenagaku”
“Kamu nggak boleh gitu dong. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu”
“Iya deh. Oh ya kamu ngapain ngajak aku ketemuan di sini?”
“Emang nggak boleh aku ngajak kamu keluar? Kamu nggak suka ya?”
“Eh, enggak bukannya gitu. Ya aku ngrasanya aneh aja. Kita dah hampir dua minggu nggak ketemu. Trus tiba-tiba kamu ngajak aku keluar. Kan aneh”.
“Tapi kamu senengkan ketemu aku?” goda Ardi.
“Udah deh jangan bercanda lagi. Cepetan ngomong apa nih? Keburu sore natr aku di marahin Ayah lagi”.
“Aku mau bilang tapi kamu jangan marah sama Irish ya. Kalau bukan karena Irish, aku nggak bakalan tau yang sebenarnya. Kamu janji ya”.
“Lho mang ada hubungannya sama Iris?”
“Iya. Kamu nggak boleh marah ke dia ya!”
“Iya deh. Cepetan kamu ngomong”.
“Aku sayang kamu Tata”.
Tata bebar-benar nggak nyangka kalau dia bakalan mendengar sesuatu yang selama ini dia inginkan. Dia bahagia sekali saat itu, sebelum ia sadar kalau dia akan segera meninggalkan semuanya.
“Kenapa kamu nggak ngmong dari dulu? Asal kamu tahu Ardi. Sejak SMA aku sudah suka sama kamu. Tapi aku kira kamu nggak punya perasaan yang sama ke aku. Jadi aku lebih memilih memendam perasaanku. Tapi, sekarang semuanya percuma, aku sudah nggak boleh miliki kamu lagi. Aku nggak mau buat kamu kecewa. Lebih baik kamu menjauh dari aku”. Tata segera berdiri dan berlari dari tempatnya sebelum Ardi sempat mengungkapkan pertanyaan yang lainnya. Ardi tak bisa mengejar Tata. Tata sudah pergi meninggalkan Ardi berdiri dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
Label: Cakrawala Senja Buat Tata, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
CAKRAWALA SENJA BUAT TATA (Bagian 3)
Sampai pada suatu hari saat kedua teman itu berjalan melewati lorong panjang di kampus, wajah Tata tampak pucat. Irish yang menyadari hal itu, segera bertanya pada Tata.
“Ta, kamu kenapa? Kok akhir-akhir ini aku lihat wajahmu pucat dan lemes banget seperti nggak punya tenaga ja”
“Aku juga nggak tau Rish, aku juga ngrasakan kalu tubuhku lemes banget”. Setelah kata terakhirnya,Tata jatuh pingsan. Ardi yang berada di belakang mereka saat itu segera menolong Tata dan membawanya duduk di kursi panjang dekat mereka. Setelah usaha keras Ardi dan Irish untuk menyadarkan Tata, akhirnya Tata sadar juga.
“Tata…..” suara Ardi menggaung di telinga Tata. Dan tanpa Tata sadari tangan Tata segera meraih tubuh Ardi dan memeluknya erat kemudian pingsan lagi. Rupanya tubuh Tata belum cukup kuat untuk membuka matanya. Ardi dan Irish semakin bingung.
“Sudahlah Di, pinjamkan tubuhmu untuk Tata saat ini. Sudah lama Tata menginginkan hal ini”, kata Irish pada Ardi yang tampak khawatir dengan keadaan Tata. Ardi tidak menyadari arti perkataan Irish itu. Dan Ardi pun tetap berusaha untuk menyadarkan Tata.
Beberapa menit kemudian Tata sadar, dia kaget karena tanpa ia ketahui tangan Tata sudah berada di pinggang Ardi. Tata segera melepaskan tangannya dan memint maaf. Ardi pun memaafkannya dan kemudian mengantar mereka pulang.
Irish mulai khawatir dengan keadaan Tata setelah kejadian itu berulang-ulang terjadi. Irish memaksa Tata untuk pergi ke dokter. Dan akhirnya sore itu pulang kuliah Tata pergi ke dokter di antar Irish. Tata takut kalau dia mengidap penyakit yang selama ini dia benci. Setelah menjalani beberapa tes, Tata dan Irish pulang.
“Kapan hasil tesnya di ambil Ta? Tanya Irish pada Tata penuh keingin tahuan.
“Kata dokternya seminggu lagi”. Jawab Tata dengan lemasnya. Dia memikirkan hasil tesnya.
“Rish, kamu nggak boleh bilang ke Ayah ma Ibu tentang keadaanku akhir-akhir ini. Aku nggak mau mereka kawatir”. Pinta Tata pada Irish dengan wajah yang iba.
“Tapi kenapa Ta? Mereka wajib tau keadanmu sekarang!”
“Rish kamu ngerti dong. Aku nggak mau buat Ayah ma Ibu khawatir” tanpa Tata sadari, dia telah membentak Irish. Irish yang mengetahui sifat sahabatnya itu tidak tersinggung karena Irish tau bagaimana perasaan Tata saat itu.
“Ya kita liat aja hasil tesnya seminggu lagi”. Irish tetap berkata dengan tenang. Mereka berjalan pulang. Ketika mereka tiba di depan rumah Tata, tampak ayah dan ibu Tata sedang membersihkan halaman rumah.
“Kok kalian baru pulang sih? Bukannya pulang kuliah sudah dari tadi? Tany ibu Tata pada Tata dan Irish.
“Ada kuliah tambahan Bu”. Tata segera menjawab ibunya sebelum Irish menatakan yang sebenarnya ada Ayah dan Ibunya. Irish tampak bengong dengan jawaban Tata, Irish tidak menyangka kalau Tata akan berbohong pada Ibunya.
“Eh iya Tante, ada kuliah tambahan”. Irish meyakinkan jawaban Tata.
“Tata ma Irish masuk dulu ya Bu” Tata berkata dengan lemasnya dan mengajak Irish segera masuk ke kamarnya.
“Ya silahkan masuk Irish. Oh iya Tata, tadi ada temanmu datang mencari kamu. Katanya namanya Ardi” suara Ibu membuat Tata menghentikan langkahnya.
“Trus Ibu bilang apa ke dia? Tanya Tata penuh dengan keingintahuannya.
“Ya Ibu bilang kalau kamu belum datang”. Tampak ayah di samping ibu tetap bekerja dan tidak memperdulikan obrolan mereka berdua.
“Ya udah Bu. Makasih, Tata masuk dulu”. Tata menyeret tangan Irish dan buru-buru mengajak Irish masuk kekamarnya. Tata yang sejak dari tadi ingin cepat berbaring segera membanting tubuhnya di tempat tidur. Tampak dari raut wajahnya memancarkan kebingungan.
“Kenapa kamu Ta? Penasaran kenapa Ardi tadi kesini? Mungkin dia ingin tau gimana keadaanmu saat ini”.
“Nggak ah”. Tata menjawab dengan mata terpejam.
“Ya udah deh Ta, kamu istirahat aja, aku mau pulang dulu”.
“Makasih ya. Hati-hati di jalan”
Irish segera beranjak dari tempat duduknya. Di halaman rumah Irish melihat ayah dan ibu Tata sedang berbicara cukup serius.
“Maaf Om, Tante, Irish mau pulang dulu”.
“Tante boleh bicara sebentar Irish?”
“Boleh Tante. Tante mau bicara soal apa?” Irish khawatir kalau Ibunya Tata sampai tanya kenapa Tata akhir-akhir ini.
“Kamu kenal sama Ardi apa nggak? Pasti kamu kenal dia kan? Siapa dia? Ibu Tata mengajukan pertanyaan beruntun pada Irish.
“Oh Ardi ya Tante? Kata Tata, dia teman sekolah Tata waktu SMA dulu”.
“Teman SMA? Tapi kenapa Tante nggak pernah tau dia?
“Ya jelas aja Tante nggak pernah liat Ardi, soalnya Ardi tinggal di luar kota sejak tiga tahun yang lalu Tan, dan sekarang dia sudah pindah kesini lagi.
Ayah Tata yang sejak tadi duduk di beranda tampak mendengarkan dengan cermat pembicaran mereka. Setelah pembicaraan itu berakhir, Irish segera berpamitan pada kedua orang tua Tata.
Label: Cakrawala Senja Buat Tata, Cerpen
Cerita Sebelumnya:
CAKRAWALA SENJA BUAT TATA (Bagian 2)
Saat Tata dan Irish keluar kamar, ayah Tata sedang membaca koran diruang tamu. Berat rasanya Tata berpamitan pada ayahnya karena ia takut kalau-kalau ayahnya tidak mengizinkannya keluar. Tapi pikirannya itu segera dihapusnya jauh-jauh. Selama Tata pergi dengan Irish dan menepati jam pulangnya ia akan aman. Irish adalah sahabat terbaik Tata, meskipun mereka baru kenal tiga tahun yang lalu saat ospek di kampus. Irish juga akrab dengan keluarga Tata. Ayah dan ibu Tata sudah menganggap Irish anak mereka juga.
Tidak terasa sampai juga akhirnya mereka di depan Mall. Mereka segera memarkirkan sepedanya. Tanpa di duga Tata, ia melihat ninja hijau yang sudah beberapa kali lewat di depan rumahnya. Ia penasaran dengan siempunya sepeda. Ia ingin tahu siapa di balik helm hitam itu. Karena terlalu seriusnya melihat cowok itu, Tata tak menghiraukan suara Irish yang sudah berkalai-kali memanggilnya. Iris yang tak sabar akhirnya memukul tangan Tata. Tata kaget dan langsung memalingkan wajahnya kearah irish.
“Da pa sih Irish?” tanya Tata tanpa dosa pada Irish.
“Ada apa, ada apa, tuh bapaknya nunggu kamu nerima karcisnya” sambil menunjuk ke arah penjaga parkir.
“Oh iya pak, maaf ya” aku Tata pada penjaganya dengan tersenyum manis.
Setelah menerima karcis dari penjaganya, Tata dan Irish segera mencari tempat parkir. Tata celingukan melihat kesana kemari mencari sosok yang sudah sejak dari kemarin membuatnya penasaran. Sosok itu di temukannya berada di pojok. Dan saat cowok itu membuka helm hitamnya, Tata menantinya dengan rasa penasaran. Dan saat cowok itu membuka helmnya tata segera menyadarinya bahwa cowok itu sudah pernah dikenalnya dulu. Untuk memastikan dugaannya itu, Tata segera menghampiri cowok itu tanpa memperdulikan Irish yang terbengong-bengong karena dari tadi omongannya tidak di gubris Tata.
“Ardi kan?!” tanya Tata pada cowok itu.
“Astaga Tata….. kok kita bisa bertemu disini sih?” balas Ardi .
“Iya nih, aku lagi jalan-jalan sama Irish. Eh, dah lama ya kita gak ketemu. Gimana kabar kamu? Kayaknya tetep ja kurusan ya.”
“Kamu nih bisa aja. Eh gimana kalau kita reuniannya di dalam ja, gak enak disini panas”. Ajak Ardi pada Tata.
Sebelum mereka beranjak tanpa mereka sadari, Irish sudah ada di tengah-tengah mereka.
“Iya nih, mentang-mentang dah gak ketemu lama kalian lupain temen sendiri” aku Irish pada mereka berdua.
“Iya deh Rish, aku minta maaf, abiznya aku penasaran aja ma cowok ini. Akhir- akhir ini aku sering melihat motor Ardi lewat depan rumah, yang dah buat aku jengkel. Eh ternyata teman lama” Tata mengungkapkan semuanya sambil bejalan ke dalam Mall.
Ardi adalah teman Tata waktu SMA dulu. Cowok berbadan jangkung ini yang sudah membuat hati Tata sempat porak pranda. Dulu Tata sempat menaruh hati pada Ardi, tapi Tata tak berani mengungkapkannya karena Tata menganggap kalau Ardi hanya menganggapnya teman. Tata tetap memendam perasaannya sampai saat ini. Sikap Adri pada tata pun sama dengan sikap Ardi pada teman ceweknya yang lain. Tata tidak mengungkapkan perasannya karena Tata berfikir kalau sampai rasa sukanya pada Ardi terus menerus ada, itu akan membuat persahabatan mereka hancur. Tata tidak mau kehilangan sahabat yang baik seperti Ardi. Hingga akhirnya mereka berpisah seiring dengan perpisahan SMA berlalu. Ardi pindah ke luar kota mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan. Dan Tata melanjutkan sekolahnya di kampus di tempat tinggalnya.
“Sekarang kamu kuliah di mana Ta?” tanya Ardi pada Tata setelah mereka mendapatkan meja dan memesan makanan.
“Aku kuliah di Trunojoyo. Lha kamu sekarang kuliah di mana?”
“Trunojo? Berarti kita bakalan satu kampus dong. Aku sekarang lagi ngurusin surat kepindahanku. Ayahku ditugaskan disini lagi. Kok kita nggak pernah ketemu ya?”
“Nggak pernah ketemu katamu? Aku sering liat motormu lewat depan rumahku. Aku sempat dendam lho ke kamu gara-gara kamu kalau lewat nggak pernah pelan. Buat telinga orang mau cepot ja. Kamunya aja yang dah lupa ma aku”. Goda tata pada Ardi dengan senyuman khas Tata.
“Eh ya bukan begitu, aku kan gak tau kalau kamu tinggal di kompleks itu. Aku sering lho kesitu, main ke rumahnya teman”.
“Eh kalian ini, nggak tau ya kalau ada orang lain di sini? Kalian nganggap aku apa? Patung?!” Cerocos Irish pada mereka berdua yang mulai jengkel karena dari tadi keberadaannya tidak di perdulikan.
“Eh, iya maaf ya Rish. Aku kenalin deh kalian berdua”. Tak lama kemudian mereka pun berkenalan. Dan sampai ahirnya mereka menyadari kalau mereka sudah cukup lama di tempat itu.
Setelah membayar tagihannya, mereka segera keluar dari tempat itu. Ardi mengajak mereka berdua keliling Mall. Tak terasa mereka sudah berjalan berjam-jam. Ketika Irish melihat jam tangannya, kaget karena hari sudah sore.
Tak terasa pertemuan Tata dan Ardi sudah hampir enam bulan. Sikap Ardi pada Tata pun tidak berupah sama seperti ketika mereka terakhir bertemu tiga tahun yang lalu. Sebenarnya Tata tidak ingin perasaannya pada Ardi lebih jauh lagi. Tata berusaha menghapus perasaannya itu. Tapi semakin dicoba untuk meghilangkan perasaan itu, semakin dalam perasaanya pada Ardi. Semua orang tidak mengetahui perasaanya pada Ardi kecuali Irish. Semenjak dari Mall, Tata bercerita semuannya pada Irish. Dan Irish menyuruh Tata mengungkapkan perasaanya pada Ardi tapi Tata menolak pendapat temannya itu. Tata tetap pada pendiriannya kalau ia tidak mau menghancurkan persahabatannya.
Label: Cakrawala Senja Buat Tata, Cerpen
CAKRAWALA SENJA BUAT TATA (Bagian 1)
Suara sepeda motor meraung dari sebrang jalan. Membuat Tata beranjak dari ruang tamu dan mengumpat dalam hati pada pengendarannya karena berhasil membuatnya kaget. Tapi apa yang dicarinya sudah tak tampak. Pengendara itu telah sampai di tikungan pojok sebelum Tata berhasil melihatnya.
Cewek ini tampak penasaran dengan pengendara ninja hijau itu setelah beberapa kali lewat di depan rumahnya. Ingin sekali ia bertemu dengannya dan memaki-makinya. Tapi keinginan itu buyar seiring dengan suara Ibu yang sampai di telingannya.
“Tata, cepat kemari bantu Ibu menyiapkan makan malam” kata ibu dari dapur yang sedang sibuk dengan bahan makanannya.
“Iya Bu tunggu bentar, Tata mau beresin buku di ruang tamu dulu”. Kemudian Tata bergegas membereskan semuannya dan menuju ke dapur.
“Maw masak apa Bu?” kata Tata di samping Ibunya.
“Ayahmu tadi minta Ibu masak tumis daging”, melihat ke Tata dan melanjutkan masaknya.
Malam itu keluarga Tata berkumpul di ruang makan. Ayah memecah keheningan berkata pada Tata,” Tata, kamu masih ingat janjimu pada ayah ibu dulu? Kamu dulu berjanji akan lulus tepat waktu kan? Kamu harus bisa menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu”. Ayah berkata dengan menatap tajam ke arah Tata.
“Iya ayah, Tata nggak akan buat ayah ma ibu kecewa”. Sambil melanjutkan makannya.
“Satu lagi, Ayah nggak mau dengar hanya karena kamu pacaran kuliahmu terganggu dan kamu molor lulus”.
Kalimat ayah barusan membuat Tata kaget dan menghentikan makannya tanpa sengaja.
“Tata bersedia kok ayah. Tata akan berusaha memberikan yang terbaik buat Ayah dan Ibu”. Dia mengatakan itu dengan senyuman meskipun dalam hatinya ia membayangkan bagaimana rasanya punya pacar. Ayah dan ibu tersenyum melihat jawaban yang Tata berikan.
Tata masuk ke kamar dengan gundah. Ia merebahkan diri di kamar sambil memeluk boneka kesayangannya. Ia membayangan bagaimana kalau seandainya dia punya seorang pacar. Pasti dia akan bisa keluar rumah dan jalan-jalan. Tapi semuanya ini hanya sebuah khayalan.
Tata adalah anak seorang guru yang terpandang di lingkungannya. Dia adalah anak semata wayang. Karena ia anak satu-satunya itulah ayah dan ibunya tidak mau melihatnya gagal. Dan ayahnya pun berusaha agar Tata bisa menjadi kebanggaan orang tuanya. Dengan beban berat yang ada di pundaknya, Tata merusaha menjalaninya rengan riang, meski kadang kegundahan dan kesedihan menyelimutinya. Semua itu terasa ringan berkat Irish, sahabatnya yang selalu ada saat di butuh dan menjadi teman curhat yang setia.
“Tataaaa…..” suara Irish menggema di telinganya saat dia masih berada di bawah lindungan selimut malamnya. Irish ada di rumah saat itu. Dia membangunkan Tata dengan suaranya yang khas kaleng pecah.
Tata hanya menggeliat di bawah selimutnya mendengar Irish datang. Dia ingin melanjutkan tidurnya. Tapi Irish tak mengizinkannya. Irish berusaha membangunkannya.
“Bangun donk Tata, kita kan udah janjian mau pergi jalan-jalan?” kata Irish sambil mengoyang-goyangkan tubuh Tata.
Tata langsung duduk dan tercengang. Dia lupa kalau udah ada janji dengan Irish.” Oh iya….. aku lupa Irish”. Tata berkata sambil tersenyum pada Irish.
“Ya udah kalu gitu cepetan kamu mandi trus kita berangkat sebelum ayahmu mencabut kembali izinya yang udah diberikannya”.
Tata beranjak, menuju ke kamar mandi. Kalau bukan karena Tata, dia tidak akan bisa mengenal dunia. Ayah Tata hanya akan mengizinkannya kalau Tata pergi dengan Irish. Irish sudah sangat di percaya kedua orang tua Tata.
Untuk sesaat Tata melupakan kejadian semalam yang membuatnya jengkel karena pengendara sepeda itu. Dia dengan segera menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian.
Label: Cakrawala Senja Buat Tata, Cerpen